Wanita Ini Berniat Minta Cerai, Namun Satu Kata Dari Sang Suami Membuatnya Menyesal

Wanita Ini Berniat Minta Cerai, Namun Satu Kata Dari Sang Suami Membuatnya Menyesal

Seorang wanita bercerita. Aku menikah di umur 21 tahun. Saat ini rumah tanggaku telah menginjak usia lima tahun. Kami juga telah dikaruniai seorang anak.

Suamiku kerjanya biasa saja. Seorang pegawai swasta. Itulah kerjanya sejak awal menikah sampai sekarang. Ia bekerja dari pagi hingga petang. Kadang sampai malam andai ada masalah di kantor.

Suamiku itu orangnya baik. Tapi, kami juga sering bertengkar. Masalahnya dia terlalu sibuk. Tidak ada waktu untuk anak dan diriku.

Suatu ketika kami bertengkar hebat. Suamiku menyangka aku hendak memamerkan penghasilanku, saat itu aku hanya ingin menunjukkan hasil yang aku dapatkan dari usahaku dengan membeli beberapa keperluan rumah. Dia merasa kecil hati.

Malam ini aku telah bertekad. Aku mau bercerai. Aku akan menunggunya pulang kerja. Karena begitu lama tanpa sadar aku pun tertidur. Saat aku terbangun, aku tak melihatnya di sampingku. Ku lihat motornya ada terparkir di halaman.

Aku melangkah ke kamar anakku. Nampak pintu sedikit terbuka. Sekilas ku lihat ada suamiku di dalam. Aku lalu berhenti sesaat di balik pintu untuk menantinya keluar dari kamar itu.

Ku dengar mereka sedang asyik bercerita. Telingaku menangkap jelas segala tutur kata yang mereka ucapkan. Tidak lama kemudian, suamiku lalu berdiri dan hendak keluar kamar. Tiba-tiba tangan suamiku digapai anakku. Menahan langkahnya.

“Ayah sayang aku tidak?”

Ayahnya tersenyum, “Amat Sayang.”

“Sayang bunda tidak?”

“Sayang. Lebih dari yang kamu tahu. Saat ayah tiada apa-apa dalam hidup, bunda itu mau terima ayah jadi suaminya. Baik kan hati bunda? Sayang ayah pada bunda, sampai menutup mata. Sampai akhirat sana.”

Anakku pun tersenyum lebar sampai terlelap. Suamiku lalu melangkah keluar kamar. Langkahnya terhenti dan kaget melihatku menanti di luar kamar.

Basah sudah pipi ini dengan air mata. Mengalir tanpa henti. Sungguh hati ini terusik sangat dalam. Aku tak tahu jika suamiku itu setiap malam berada di sisi anak kami bercerita tentang Rasulullah SAW. Selama ini, kusangka suamiku tidak pernah peduli. Kucapai tangan suami. Kusalami tangan kasar itu.

Apakah Bunda baik-baik saja?” suamiku kaget seketika.

“Maafkan bunda, ayah. Maafkan bunda. Selama ini, bunda sudah berlaku tak setia kepada ayah. Bunda isteri durhaka. Maafkan bunda. Ampunkan bunda, Ayah.” aku ingin menjerit sejadi-jadinya namun tak ingin anakku terbangun dan mengetahui apa yang terjadi.

Suamiku lalu mengusap ubun-ubun kepalaku sambil berkata, “Ayah sudah lama tahu. Ayah maafkan.” Suamiku tersenyum. Tapi, ternyata wajahnya terlihat sedih.

“Bunda cinta pemuda itu? Kalau Bunda mencintainya dan sudah tak cinta ayah lagi, ayah rela korbankan kebahagiaan ayah demi melihat bunda bahagia.”

Ya Allah. Bagai hendak hendak putus detak jantungku ketika itu. Tanganku menggigil. Dinginnya malam menjadi amat menusuk. Aku yang tadinya begitu yakin ingin bercerai, sekarang hanya bisa berdiri kaku tak berdaya. Sambil terisak-isak, kukuatkan hati. Berusaha mengendalikan diri namun air mata tak hentinya mengalir.

Tidak. Tidak. Bunda hanya mau ayah seorang, bunda mau ke syurga dengan ayah bersama anak kita,”

Lantas suamiku itu tersenyum. Kali ini riaknya ikhlas riang. Tumpah air mata lelakinya di hadapanku.

“Jangan ulang lagi. Hargai Ayah, janji?”

Aku mengangguk mengiyakan dan memeluknya erat.

Rupa-rupanya pertengkaran kami sebelumnya bukan karena aku mendapatkan uang lebih banyak darinya. Ia marah dan sakit hati karena mengetahui hubungan terlarang aku dan pemuda itu.

Tiba-tiba sebuah pesan Whatsapp masuk. Ternyata dari pria itu.

“Bagaimana? Sudah Dinda sampaikan?”

Aku pun membalas pendek pesan itu.

“Maaf. Saya putuskan untuk memilih setia. Kita selesai sampai di sini. Setelah ini, suami saya sendiri yang akan jadi fotografer.”

Sebuah pesan masuk lagi, “Tapi, tapi kita kan sama-sama saling mencintai! Sudah janji sehidup semati!”

Aku lalu segera menghapus program Whatsapp dari ponsel aku. Mematahkan SIM Card aku di depan suamiku saat itu juga. Dalam hati, aku telah bertekad untuk tidak lagi melukai insan yang selama ini setia di sisiku.

Nah, bagaimana menurut sahabat semua? Bila ada pendapat atau masukan silakan tulis di kolom komentar ya. Jangan lupa berikan like & share juga lalu klik ikuti bila menyukai postingan ini. Terima kasih.

Sumber: storiesoflife.today dengan analisis pribadi

 

Tags: #cerai #suami #wanita

author
Author: 
    Universitas Ini Telah Siapkan Dua Mobil untuk Balap Formula di Jepang
    Universitas Ini Telah Siapkan Dua Mobil untuk Balap Formula di Jepang
    Kabar terbaru datang dari Institut Teknologi Sepuluh
    Habis Makan, Keluarga Ini Lupa Bawa Pulang Anaknya
    Habis Makan, Keluarga Ini Lupa Bawa Pulang Anaknya
    Makan bersama keluarga di sebuah restoran tentunya
    5 Negara yang Memiliki Jaringan Internet Tercepat di Asia
    5 Negara yang Memiliki Jaringan Internet Tercepat di Asia
    Saat traveling ke suatu negara, jaringan internet

    Leave a reply "Wanita Ini Berniat Minta Cerai, Namun Satu Kata Dari Sang Suami Membuatnya Menyesal"

    Must read×

    Top
    %d bloggers like this: